Sistem Airbag SRS: Pengertian, Fungsi, Komponen, Cara Kerja, Jenis, dan Tanda Kerusakan
Ilustrasi airbag depan yang mengembang untuk melindungi pengemudi dan penumpang.
Keselamatan merupakan salah satu aspek terpenting dalam perancangan kendaraan bermotor. Selain struktur bodi yang kuat dan sistem pengereman yang andal, kendaraan modern juga dilengkapi dengan berbagai sistem keselamatan pasif yang bekerja untuk melindungi pengemudi dan penumpang ketika kecelakaan tidak dapat dihindari. Salah satu sistem keselamatan pasif yang paling dikenal adalah sistem airbag SRS, yaitu airbag yang bekerja sebagai bagian dari Supplemental Restraint System atau SRS.
Meskipun hampir semua mobil baru telah dilengkapi dengan airbag, masih banyak pengguna kendaraan yang belum memahami cara kerja sistem ini secara menyeluruh. Sebagian masyarakat menganggap airbag dapat menggantikan sabuk pengaman, padahal anggapan tersebut tidak tepat. Airbag dirancang untuk bekerja bersama sabuk pengaman, bukan untuk menggantikannya. Pemahaman yang benar mengenai sistem airbag SRS penting bagi pengemudi, penumpang, teknisi, siswa bidang otomotif, dan pemilik kendaraan agar sistem keselamatan ini dapat dimanfaatkan secara optimal serta dirawat dengan benar.
Artikel ini membahas sistem airbag SRS secara lengkap dan sistematis, mulai dari pengertian, fungsi, sejarah singkat, komponen utama, cara kerja, jenis-jenis airbag, perawatan, tanda kerusakan, hingga kesalahan yang sering dilakukan oleh pengguna kendaraan.
Pengertian Sistem Airbag SRS
Sistem airbag SRS adalah sistem keselamatan pasif pada kendaraan yang terdiri atas kantung udara, sensor tabrakan, unit kontrol elektronik, dan perangkat pendukung lainnya yang bekerja secara otomatis untuk mengurangi risiko cedera serius pada pengemudi dan penumpang saat terjadi tabrakan. SRS merupakan singkatan dari Supplemental Restraint System, yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai sistem penahan tambahan.
Kata "tambahan" pada nama sistem ini memiliki makna yang sangat penting. Airbag disebut sebagai penahan tambahan karena perlindungan utamanya tetap berasal dari sabuk pengaman. Sabuk pengaman berfungsi menahan tubuh agar tetap berada pada posisi yang aman di jok, sedangkan airbag berfungsi meredam benturan tubuh dengan bagian interior kendaraan, seperti setir, dasbor, kaca depan, dan panel pintu. Apabila kedua sistem ini bekerja bersama, risiko cedera pada kepala, leher, dada, dan wajah dapat dikurangi secara signifikan.
Ketika terjadi tabrakan yang memenuhi syarat pengembangan, kantung udara akan mengembang dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya dalam hitungan milidetik. Setelah mengembang dan meredam benturan, kantung udara akan segera mengempis melalui lubang pelepas gas yang terdapat pada bagian kain kantung. Pengempisan ini bertujuan agar pengemudi tetap dapat melihat kondisi di depan kendaraan dan agar penumpang dapat segera keluar dari kendaraan setelah kejadian.
Fungsi Sistem Airbag SRS
Secara umum, sistem airbag SRS memiliki beberapa fungsi utama sebagai berikut.
Pertama, airbag berfungsi meredam energi benturan yang diterima oleh tubuh. Pada saat tabrakan, kendaraan berhenti secara mendadak, tetapi tubuh pengemudi dan penumpang tetap bergerak ke depan akibat gaya kelembaman. Tanpa penahan yang memadai, tubuh dapat membentur permukaan keras di dalam kabin. Kantung udara yang mengembang menyediakan permukaan yang lebih lunak dan lebih luas untuk menahan gerakan tersebut, sehingga tekanan benturan dapat disebarkan ke area tubuh yang lebih besar.
Kedua, airbag berfungsi mengurangi risiko cedera kepala dan dada. Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama kematian pada kecelakaan kendaraan. Dengan adanya airbag depan, kepala pengemudi tidak langsung membentur setir dan kepala penumpang depan tidak langsung membentur dasbor. Pada airbag samping dan airbag tirai, perlindungan tambahan juga diberikan terhadap benturan dari arah samping yang dekat dengan struktur kendaraan lain atau benda keras di luar kendaraan.
Ketiga, airbag berfungsi mendukung kinerja sabuk pengaman. Sabuk pengaman dengan penegang awal atau pretensioner akan menarik sabuk dalam waktu sangat singkat saat tabrakan terdeteksi, sehingga posisi tubuh menjadi lebih stabil sesaat sebelum airbag mengembang. Kombinasi kedua perangkat ini memberikan perlindungan yang jauh lebih baik dibandingkan penggunaan salah satu perangkat saja.
Keempat, sistem SRS berfungsi mendeteksi dan mencatat kondisi kecelakaan. Unit kontrol SRS menerima data dari berbagai sensor, menilai tingkat keparahan benturan, kemudian memutuskan airbag mana yang perlu dikembangkan dan pada tahap kekuatan berapa. Pada kendaraan modern, keputusan tersebut juga mempertimbangkan penggunaan sabuk pengaman, posisi jok, serta keberadaan dan perkiraan berat penumpang.
Sejarah Singkat Perkembangan Airbag
Konsep kantung udara untuk kendaraan telah dikembangkan sejak pertengahan abad ke-20. Pada tahap awal, perkembangan teknologi ini berjalan lambat karena keterbatasan sensor, bahan kantung, dan sistem pemicu yang andal. Pada tahun 1970-an, beberapa produsen kendaraan di Amerika Serikat mulai menawarkan airbag sebagai perlengkapan opsional pada mobil penumpang dalam jumlah terbatas.
Perkembangan yang lebih luas terjadi pada awal tahun 1980-an ketika produsen kendaraan di Eropa mulai memasang airbag pengemudi sebagai perlengkapan standar pada model tertentu. Sejak saat itu, airbag penumpang depan, airbag samping, dan airbag tirai berkembang secara bertahap mengikuti tuntutan keselamatan dan standar pengujian tabrakan. Saat ini, jumlah airbag pada sebuah mobil dapat mencapai enam, delapan, atau bahkan lebih, tergantung pada segmen kendaraan dan pasar tempat kendaraan tersebut dijual.
Perkembangan penting lainnya adalah penggunaan inflator bertahap ganda dan sensor pendeteksi penumpang. Teknologi ini memungkinkan airbag mengembang dengan kekuatan yang disesuaikan dengan kondisi tabrakan dan karakteristik penumpang, sehingga perlindungan menjadi lebih efektif dan risiko cedera akibat pengembangan airbag itu sendiri dapat dikurangi.
Komponen Utama Sistem Airbag SRS
Sistem airbag SRS bukan hanya kantung udara yang terlihat mengembang saat kecelakaan. Sistem ini tersusun atas banyak komponen yang saling terhubung dan bekerja dalam waktu yang sangat singkat. Komponen utama sistem ini adalah sebagai berikut.
1. Kantung Udara
Kantung udara terbuat dari bahan kain sintetis yang kuat dan tipis, umumnya berbahan nilon, yang dilipat secara khusus di dalam modul airbag. Kantung udara pengemudi disimpan di bagian tengah setir, sedangkan kantung udara penumpang depan disimpan di dalam dasbor. Airbag samping umumnya berada di sisi jok atau panel pintu, sedangkan airbag tirai tersembunyi di sepanjang pilar dan tepi atap kabin.
2. Inflator atau Generator Gas
Inflator adalah komponen yang menghasilkan gas dalam jumlah besar dalam waktu sangat singkat untuk mengembangkan kantung udara. Ketika menerima sinyal listrik dari unit kontrol, inflator akan mengaktifkan bahan penghasil gas di dalamnya. Gas yang dihasilkan, terutama gas nitrogen yang bersifat inert, akan mengalir ke kantung udara dan membuatnya mengembang hampir seketika. Pada kendaraan modern, inflator dapat bekerja dalam dua tahap, yaitu pengembangan dengan kekuatan lebih rendah untuk benturan ringan hingga sedang dan pengembangan penuh untuk benturan yang lebih berat.
3. Sensor Tabrakan
Sensor tabrakan berfungsi mendeteksi perubahan kecepatan dan gaya perlambatan yang terjadi secara mendadak. Sensor ini dapat ditempatkan di bagian depan kendaraan, di sisi bodi, serta di dalam unit kontrol SRS itu sendiri. Data dari sensor digunakan untuk membedakan antara benturan yang membahayakan dan guncangan biasa, seperti saat kendaraan melewati jalan rusak atau menghantam lubang. Dengan cara ini, airbag tidak akan mengembang hanya karena kendaraan mengalami getaran ringan.
4. Unit Kontrol SRS
Unit kontrol SRS, yang juga disebut sebagai modul kontrol airbag, merupakan pusat pengambilan keputusan dalam sistem ini. Unit ini menerima data dari sensor tabrakan, sensor sabuk pengaman, serta sensor pendudukan jok. Berdasarkan data tersebut, unit kontrol menilai arah dan tingkat keparahan tabrakan dalam waktu beberapa milidetik, kemudian mengirimkan perintah pengembangan kepada inflator yang sesuai. Unit kontrol juga melakukan pemeriksaan mandiri setiap kali kendaraan dihidupkan dan akan menyalakan lampu peringatan apabila ditemukan gangguan pada sistem.
5. Clock Spring
Clock spring atau kabel spiral adalah komponen yang menghubungkan rangkaian listrik pada setir, termasuk modul airbag pengemudi dan tombol klakson, dengan rangkaian listrik pada kolom kemudi. Komponen ini memungkinkan hubungan listrik tetap terjaga meskipun setir diputar ke kiri dan ke kanan. Kerusakan pada clock spring merupakan salah satu penyebab yang cukup sering ditemukan ketika lampu peringatan airbag menyala.
6. Pretensioner Sabuk Pengaman
Banyak kendaraan modern melengkapi sabuk pengaman depan dengan pretensioner. Saat tabrakan terdeteksi, pretensioner akan menarik sabuk secara cepat untuk mengurangi kelonggaran sabuk dan menahan tubuh pada posisi yang lebih aman. Beberapa sistem juga dilengkapi dengan pembatas beban yang akan mengendurkan sabuk secara terkendali setelah benturan awal, guna mengurangi tekanan berlebihan pada dada.
7. Sensor Pendudukan Jok
Sensor pendudukan jok berfungsi mendeteksi keberadaan penumpang di jok depan serta memperkirakan berat badan penumpang tersebut. Informasi ini digunakan untuk menentukan apakah airbag penumpang perlu diaktifkan dan pada tahap kekuatan berapa airbag harus dikembangkan. Pada sebagian kendaraan, sistem ini juga terkait dengan peringatan penggunaan sabuk pengaman.
8. Lampu Peringatan SRS
Lampu peringatan SRS atau lampu indikator airbag terdapat pada panel instrumen. Dalam kondisi normal, lampu ini akan menyala selama beberapa detik saat kunci kontak diputar ke posisi on atau saat mesin dihidupkan, kemudian padam setelah pemeriksaan mandiri selesai. Apabila lampu tetap menyala, berkedip, atau tidak menyala sama sekali pada saat pemeriksaan awal, hal tersebut
menunjukkan adanya kemungkinan gangguan yang perlu diperiksa lebih lanjut.
Ilustrasi komponen sistem airbag SRS, mulai dari sensor tabrakan, unit kontrol, hingga modul airbag pada setir.
Cara Kerja Sistem Airbag SRS
Cara kerja sistem airbag SRS dapat dijelaskan melalui urutan kejadian yang terjadi dalam waktu yang sangat singkat sejak tabrakan dimulai.
Tahap pertama adalah terjadinya benturan dan perlambatan mendadak. Ketika kendaraan menabrak kendaraan lain atau benda tetap, struktur depan kendaraan akan menyerap sebagian energi benturan dan kecepatan kendaraan menurun secara drastis dalam waktu yang sangat singkat. Sensor tabrakan mendeteksi perlambatan ini dan mengirimkan sinyal kepada unit kontrol SRS.
Tahap kedua adalah penilaian oleh unit kontrol. Unit kontrol membandingkan data perlambatan dengan ambang batas yang telah dikalibrasikan oleh pabrikan. Penilaian ini mencakup arah benturan, besarnya perlambatan, dan data pendukung dari sensor lain. Apabila benturan dinilai tidak cukup berat, airbag tidak akan dikembangkan karena pengembangan yang tidak diperlukan justru dapat menimbulkan risiko cedera dan biaya perbaikan yang besar. Apabila benturan memenuhi syarat, unit kontrol segera mengambil keputusan untuk mengembangkan airbag tertentu.
Tahap ketiga adalah pengaktifan inflator. Unit kontrol mengalirkan arus listrik kepada pemicu inflator. Bahan penghasil gas di dalam inflator bereaksi dan menghasilkan gas bertekanan tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Seluruh proses sejak benturan terdeteksi hingga kantung mulai mengembang umumnya berlangsung hanya dalam waktu sekitar sepuluh hingga tiga puluh milidetik, tergantung pada desain sistem dan kondisi tabrakan.
Tahap keempat adalah pengembangan kantung udara dan peredaman tubuh. Kantung udara mengembang sepenuhnya dalam waktu kurang dari seperlima detik dan membentuk bantalan di antara tubuh dan interior kendaraan. Pada saat yang hampir bersamaan, pretensioner menarik sabuk pengaman sehingga tubuh tertahan dengan lebih efektif. Ketika tubuh menekan kantung udara, gas di dalam kantung keluar melalui lubang pelepas secara terkendali. Proses ini menyerap energi gerakan tubuh secara bertahap, sehingga perlambatan yang diterima oleh kepala dan dada menjadi lebih rendah.
Tahap kelima adalah pengempisan dan pemulihan. Setelah meredam benturan, kantung udara akan mengempis dengan cepat sehingga tidak menghalangi pandangan dan pernapasan. Pengemudi dan penumpang kemudian dapat membuka pintu dan keluar dari kendaraan atau menerima pertolongan. Perlu dipahami bahwa airbag hanya dirancang untuk bekerja satu kali. Modul airbag yang telah mengembang harus diganti, dan sistem SRS secara keseluruhan wajib diperiksa serta diperbaiki sesuai prosedur pabrikan sebelum kendaraan digunakan kembali.
Jenis-Jenis Airbag pada Mobil
Perkembangan teknologi keselamatan membuat airbag tidak lagi hanya tersedia untuk pengemudi. Berikut ini adalah jenis-jenis airbag yang umum ditemukan pada kendaraan modern.
Ilustrasi airbag samping dan airbag tirai yang melindungi penumpang dari benturan arah samping.
1. Airbag Depan
Airbag depan terdiri atas airbag pengemudi dan airbag penumpang depan. Airbag pengemudi terletak di tengah setir, sedangkan airbag penumpang depan terletak di dasbor. Jenis ini memberikan perlindungan utama terhadap benturan dari arah depan, terutama untuk kepala dan dada.
2. Airbag Samping
Airbag samping dirancang untuk melindungi bagian tubuh dan panggul penumpang saat terjadi benturan dari arah samping. Komponen ini umumnya dipasang pada sisi luar jok atau pada panel pintu. Karena jarak antara penumpang dan sisi kendaraan sangat dekat, airbag samping harus mengembang lebih cepat dibandingkan airbag depan.
3. Airbag Tirai
Airbag tirai atau curtain airbag dipasang di sepanjang sisi atap kabin, mulai dari pilar depan hingga pilar belakang. Saat terjadi benturan samping atau kendaraan terguling, airbag ini mengembang ke bawah menyerupai tirai untuk melindungi kepala penumpang depan dan belakang dari benturan dengan kaca samping, pilar, dan benda dari luar kendaraan.
4. Airbag Lutut
Airbag lutut terletak di bagian bawah dasbor, di depan lutut pengemudi dan pada sebagian kendaraan juga di depan lutut penumpang. Fungsinya adalah mengurangi risiko cedera pada lutut dan tulang kaki bagian bawah, serta membantu menjaga posisi tubuh bagian bawah agar tetap selaras saat airbag depan mengembang.
5. Airbag Tengah
Airbag tengah merupakan teknologi yang relatif lebih baru. Airbag ini umumnya keluar dari sisi dalam jok pengemudi atau konsol tengah dan berfungsi mengurangi benturan antara pengemudi dan penumpang depan saat terjadi tabrakan samping yang jauh dari sisi tempat duduk penumpang.
6. Airbag pada Sabuk Pengaman
Beberapa kendaraan melengkapi sabuk pengaman belakang dengan kantung udara yang terintegrasi di dalam sabuk. Saat terjadi tabrakan, bagian sabuk yang melintang di dada akan mengembang untuk menyebarkan gaya benturan ke area yang lebih luas, sehingga tekanan pada dada, terutama pada anak dan lanjut usia, dapat dikurangi.
Syarat Airbag Dapat Mengembang
Tidak semua benturan akan membuat airbag mengembang. Sistem ini dikalibrasikan untuk bekerja pada tingkat keparahan tertentu dan pada arah benturan tertentu. Airbag depan umumnya dirancang untuk benturan dari arah depan dan benturan miring depan dalam sudut tertentu. Benturan dari arah belakang, benturan ringan dengan kecepatan sangat rendah, serta kendaraan yang terguling tanpa benturan samping yang memadai umumnya tidak akan memicu airbag depan.
Keputusan untuk mengembangkan airbag didasarkan pada perlambatan kendaraan, bukan semata-mata pada besarnya kerusakan bodi. Dua kecelakaan dengan kerusakan yang terlihat serupa dapat menghasilkan keputusan yang berbeda apabila arah benturan, kecepatan, dan pola perlambatan yang terjadi berbeda. Oleh karena itu, pemilik kendaraan tidak disarankan untuk menilai kinerja sistem SRS hanya berdasarkan ada atau tidak adanya kerusakan pada bagian luar kendaraan.
Perawatan Sistem Airbag SRS
Berbeda dengan komponen seperti oli mesin atau kampas rem, airbag tidak memerlukan perawatan berkala berupa penggantian rutin dalam interval yang pendek. Meskipun demikian, pemilik kendaraan tetap perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini agar sistem SRS dapat bekerja dengan baik.
Pertama, perhatikan lampu peringatan SRS setiap kali menghidupkan kendaraan. Pastikan lampu menyala sesaat pada pemeriksaan awal, kemudian padam. Apabila lampu tetap menyala, segera lakukan pemeriksaan dengan alat pemindai diagnostik di bengkel resmi atau bengkel yang memiliki kompetensi menangani sistem kelistrikan dan keselamatan kendaraan.
Kedua, hindari melakukan perubahan yang dapat mengganggu sistem SRS. Pemasangan sarung jok yang tidak sesuai dapat menghalangi pengembangan airbag samping yang berada di jok. Pemasangan penutup setir tambahan, aksesori pada dasbor, serta benda berat yang diletakkan di atas dasbor juga dapat mengganggu pengembangan airbag dan berbahaya apabila airbag mengembang.
Ketiga, lakukan perbaikan sistem SRS hanya di bengkel yang kompeten. Sistem ini mengandung komponen piroteknik pada inflator dan pretensioner. Penanganan yang salah, seperti mengukur tahanan modul airbag menggunakan multimeter biasa atau melakukan penyambungan kabel tanpa prosedur yang benar, dapat menyebabkan pengembangan yang tidak disengaja dan cedera serius. Teknisi wajib mengikuti prosedur keselamatan pabrikan, termasuk melepas terminal baterai dan menunggu waktu tertentu sebelum memulai pekerjaan.
Keempat, segera periksa sistem SRS setelah kendaraan mengalami tabrakan, meskipun airbag tidak mengembang. Sensor, unit kontrol, dan pretensioner dapat mengalami kerusakan yang tidak terlihat. Pemeriksaan menyeluruh akan memastikan sistem tetap siap bekerja pada kejadian berikutnya.
Kelima, gunakan selalu sabuk pengaman dan atur posisi duduk yang benar. Pengemudi disarankan duduk tegak dengan jarak yang aman dari setir, umumnya tidak kurang dari sekitar dua puluh lima sentimeter antara dada dan pusat setir, sambil tetap dapat menjangkau pedal dan setir dengan nyaman. Penumpang anak berusia di bawah tiga belas tahun disarankan duduk di jok belakang. Kursi bayi yang menghadap ke belakang tidak boleh diletakkan di jok depan yang airbag-nya aktif, karena pengembangan airbag dapat menimbulkan cedera yang sangat serius pada bayi.
Tanda dan Penyebab Kerusakan Sistem Airbag SRS
Tanda kerusakan yang paling mudah dikenali adalah lampu peringatan SRS yang menyala terus-menerus atau berkedip. Kondisi ini menunjukkan bahwa unit kontrol mendeteksi gangguan dan sebagian atau seluruh fungsi airbag kemungkinan tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya saat terjadi tabrakan.
Beberapa penyebab umum gangguan sistem SRS antara lain kerusakan pada clock spring, konektor rangkaian yang longgar atau berkarat terutama di bawah jok, gangguan pada sensor tabrakan, kerusakan pada sensor pendudukan jok, tegangan baterai yang terlalu rendah, serta kerusakan pada unit kontrol SRS. Pada kendaraan yang pernah mengalami tabrakan, data tabrakan yang tersimpan pada unit kontrol juga dapat menyebabkan lampu peringatan tetap menyala hingga unit diganti atau diprogram ulang sesuai ketentuan pabrikan.
Pemilik kendaraan tidak disarankan untuk menghapus kode kerusakan tanpa memperbaiki penyebabnya. Pemeriksaan yang tepat harus dilakukan dengan membaca kode kerusakan menggunakan alat pemindai, memeriksa rangkaian berdasarkan pedoman perbaikan, dan mengganti komponen yang rusak dengan komponen yang sesuai spesifikasi.
Kesalahan yang Sering Terjadi Berkaitan dengan Airbag
Kesalahan pertama adalah menganggap airbag dapat menggantikan sabuk pengaman. Tanpa sabuk pengaman, tubuh dapat bergerak terlalu jauh ke depan sebelum airbag mengembang sepenuhnya, sehingga risiko cedera justru meningkat. Kesalahan kedua adalah meletakkan benda di atas dasbor atau menempelkan aksesori pada penutup modul airbag. Saat airbag mengembang, benda tersebut dapat terlempar dengan kecepatan tinggi ke arah penumpang. Kesalahan ketiga adalah memasang sarung jok sembarangan pada jok yang dilengkapi airbag samping. Kesalahan keempat adalah mengabaikan lampu peringatan SRS yang menyala selama berbulan-bulan. Kesalahan kelima adalah membeli modul airbag bekas atau hasil daur ulang yang tidak jelas riwayatnya. Komponen keselamatan harus diperoleh dari sumber resmi dan dipasang sesuai prosedur.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah airbag pasti mengembang pada setiap kecelakaan?
Tidak. Airbag hanya mengembang apabila arah dan tingkat keparahan benturan memenuhi ambang batas yang telah ditentukan oleh pabrikan.
Apakah airbag yang sudah mengembang dapat digunakan kembali?
Tidak. Kantung udara, inflator, dan komponen pendukung yang telah bekerja harus diganti dan sistem harus diperiksa secara menyeluruh.
Mengapa lampu SRS menyala padahal kendaraan tidak pernah mengalami kecelakaan?
Lampu dapat menyala karena gangguan pada sensor, konektor, clock spring, tegangan baterai, atau unit kontrol. Pemeriksaan dengan alat pemindai diperlukan untuk mengetahui penyebab pastinya.
Apakah airbag memiliki masa pakai?
Sebagian besar produsen kendaraan modern tidak menetapkan penggantian rutin dalam jangka pendek, tetapi pemilik kendaraan disarankan mengikuti ketentuan pada buku manual dan segera memeriksa sistem apabila lampu peringatan menyala.
Kesimpulan
Sistem airbag SRS merupakan sistem keselamatan pasif yang sangat penting pada kendaraan modern. Sistem ini bekerja sebagai penahan tambahan yang melengkapi sabuk pengaman, dengan cara mendeteksi tabrakan melalui sensor, menilai tingkat keparahannya melalui unit kontrol, dan mengembangkan kantung udara dalam waktu yang sangat singkat untuk meredam benturan tubuh. Pemahaman mengenai komponen, cara kerja, jenis, perawatan, dan tanda kerusakan sistem ini akan membantu pemilik kendaraan menjaga fungsi keselamatan kendaraannya. Hal yang terpenting untuk selalu diingat adalah bahwa airbag tidak menggantikan sabuk pengaman. Penggunaan sabuk pengaman secara benar, posisi duduk yang tepat, serta pemeriksaan segera saat lampu peringatan SRS menyala merupakan langkah sederhana yang menentukan apakah sistem keselamatan ini dapat memberikan perlindungan maksimal ketika dibutuhkan.
Salam Teknika!



0 Response to "Sistem Airbag SRS: Pengertian, Fungsi, Komponen, Cara Kerja, Jenis, dan Tanda Kerusakan"
Post a Comment